Skip to search Skip to main content

Rem Korteweg dan Antony Blinken berbincang dalam sesi diskusi di AquaVision 2026

AquaVision 2026 yang berlangsung di Stavanger, Norway pada 8–10 Juni 2026 berhasil mempertemukan lebih dari 400 pembudidaya ikan dan udang, pemasok, serta para pemangku kepentingan dari sekitar 40 negara.

Sebagai produsen pakan, Skretting memiliki posisi strategis dalam menghubungkan seluruh rantai nilai industri. Perusahaan induknya, Nutreco, merupakan pemimpin global di bidang nutrisi hewan. Bersama-sama, keduanya berada di jantung sistem pangan dunia dengan tujuan yang sama: Feeding the Future.

Yang membuat AquaVision 2026 istimewa adalah kemampuannya mempertemukan para pemimpin terkemuka industri akuakultur dari berbagai penjuru dunia, mewakili beragam wilayah produksi serta berbagai spesies budidaya, untuk membahas isu-isu strategis yang memengaruhi industri secara keseluruhan.

Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap makanan laut, ketidakstabilan geopolitik, tekanan terhadap bahan baku pakan, perubahan iklim, serta semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan buatan, pertanyaan utama yang muncul adalah: Bagaimana industri akuakultur dapat dipersiapkan agar tetap relevan dan tangguh di masa depan, sekaligus memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, konferensi selama dua hari ini menghadirkan jajaran pembicara unggulan dari seluruh rantai nilai industri, dan dipandu oleh Sophie Ryan, CEO dari Global Salmon Initiative.

Hari pertama dibuka dengan sambutan dari Tormod Losnedal, Wali Kota Stavanger, sebelum Bastiaan van Tilburg, CEO Nutreco, naik ke panggung untuk pembukaan resmi acara.

Dalam pandangannya mengenai peran Nutreco dan Skretting dalam mendukung ketahanan pangan, ia menyampaikan “Agar sistem pangan terus bertumbuh, kita membutuhkan keterbukaan dalam berbagi pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi… Bukan sekat atau batas yang semakin tinggi. Yang kita butuhkan adalah pola pikir jangka panjang serta kerja sama yang lebih erat. Dan saya yakin, sebagian solusi itu ada di ruangan ini.”

Untuk memastikan sistem pangan terus bertumbuh, kita memerlukan keterbukaan dalam berbagi pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi… Bukan batasan atau sekat yang semakin besar. Yang dibutuhkan adalah visi jangka panjang serta kerja sama yang lebih kuat. Dan saya percaya, sebagian dari solusinya ada di ruangan ini.
Bastiaan van Tilburg speaking at AquaVision 2026

Menavigasi Dinamika Politik Global

Hari pertama berfokus pada pembahasan geopolitik dan implikasinya terhadap industri akuakultur, dengan berbagai wawasan menarik dari para pembicara.

  • Berbicara kepada para pemimpin industri yang hadir, Rem Korteweg dari Clingendael Institute mengatakan “Anda para pelaku bisnis, eksekutif, dan CEO sejatinya berada di garis depan. Cara kita berinteraksi satu sama lain dan bagaimana Anda membentuk arah diskusi sama pentingnya dengan apa yang dibicarakan di pusat-pusat kekuasaan dunia.”
  • Dr. Keyu Jin, penulis buku The New China Playbook, memaparkan bagaimana Tiongkok memasuki era ekonomi baru, menyoroti paradoks unik dalam perkembangannya, serta pandangannya mengenai arah pertumbuhan negara tersebut di tahun-tahun mendatang. “Kita tidak lagi bisa melihat model lama perusahaan Tiongkok yang berekspansi ke luar negeri. Kini mereka beroperasi dengan cara yang jauh lebih dinamis: R&D di Eropa, rantai pasok di Tiongkok, treasury di Dubai dan Hong Kong. Ini adalah bentuk reinventing global, dan Tiongkok sudah memikirkan hal ini jauh lebih awal.”
  • Selain membagikan pandangannya mengenai perubahan aturan tarif yang diperkirakan akan menjadi norma baru, Ignacio Briones, mantan Menteri Keuangan Chile, juga membahas posisi strategis Amerika Latin dalam lanskap global saat ini. “Kita bukan hanya sedang menyaksikan titik balik dalam aturan ekonomi global. Perubahan ini akan bersifat permanen. Namun, di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, terdapat peluang besar bagi Amerika Latin.”

  • Profesor Columbia Law School sekaligus penulis The Brussels Effect, Anu Bradford, membahas bagaimana Eropa dapat menghadapi tantangan geopolitik dan perdagangan dengan menjadi lebih mandiri, baik dalam kapasitas militer maupun pengembangan teknologi. Menurutnya, hal ini memerlukan investasi yang lebih besar pada keamanan, pola pikir yang lebih berani mengambil risiko, kemampuan menarik talenta global, serta peningkatan investasi dalam inovasi. Menurutnya, hal ini memerlukan investasi yang lebih besar pada keamanan, pola pikir yang lebih berani mengambil risiko, kemampuan menarik talenta global, serta peningkatan investasi dalam inovasi. “Kita harus menyadari bahwa Eropa perlu menjaga keamanannya sendiri, dan ada kebutuhan mendesak untuk membangun kembali daya saing. Ini adalah momen penting bagi Eropa. Di tengah ketidakpastian dan tantangan ini, tersimpan peluang yang sangat besar.”

  • Dalam diskusi panel yang dinamis, Keyu Jin, Ignacio Briones, dan Anu Bradford mewakili perspektif dari Tiongkok, Amerika Latin, dan Eropa. Mereka sepakat bahwa industri global membutuhkan kelincahan (agility), diversifikasi, dan kolaborasi. Moderator Sophie Ryan juga menyoroti bahwa masing-masing kawasan tetap berkomitmen pada pendekatan uniknya sendiri.
  • Hiroaki Ishimoto dari Mitsui & Co. menghadirkan perspektif investor, membahas tren premiumisation of food needs serta dua model bisnis utama dalam industri akuakultur: model salmon dan udang yang dibudidayakan dengan keterbatasan produksi namun dipasarkan secara global, serta model “unggas” yang lebih relevan untuk spesies dengan harga terjangkau yang dapat diproduksi dan dijual secara lokal.
  • Pembicara utama sekaligus mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, berbincang dengan Rem Korteweg mengenai semakin kompleksnya diplomasi global. “Tiga puluh atau empat puluh tahun lalu, jika terjadi sesuatu, tokoh seperti Henry Kissinger atau James Baker cukup menelepon empat atau lima menteri luar negeri atau presiden untuk mencari solusi. Sekarang ada begitu banyak pihak yang memiliki pengaruh dalam setiap isu. Jika mereka tidak bisa disatukan sejak awal, maka akhirnya akan berujung pada kegagalan.” Saat ditanya mengenai hal yang paling mengkhawatirkannya, Blinken menambahkan bahwa pengambilan keputusan bisnis dan investasi kini semakin sulit di tengah ketidakpastian global. “Situasi ini menuntut ketahanan, redundansi, berbagai alternatif, dan strategi mitigasi risiko. Memang biayanya lebih besar, tetapi pada akhirnya investasi tersebut jauh lebih kecil dibanding risiko kegagalan akibat berada di sisi yang salah dari perubahan besar ini.”

  • Skretting diwakili oleh May-Helen Holme yang menegaskan bahwa ketika volatilitas menjadi normal baru dalam akuakultur, industri perlu bergeser dari sekadar mengejar efisiensi menuju pembangunan ketahanan melalui bahan baku pakan yang lebih aman dan beragam, nutrisi yang presisi, inovasi, serta kolaborasi jangka panjang yang lebih kuat.
  • Sandro Coglitore dari Omarsa menjelaskan bahwa industri udang Ecuador telah menjadi sangat efisien dan kompetitif secara global berkat genetika, pakan, dan teknologi. Namun, pertumbuhan ke depan semakin terancam oleh proteksionisme, regulasi sanitasi yang dipolitisasi, serta perjanjian perdagangan yang kurang optimal.
  • Setelah membahas dinamika industri salmon global selama beberapa dekade terakhir, Steven Rafferty dari Cermaq mengajak seluruh pelaku industri untuk kembali memperkuat kolaborasi demi mendorong pertumbuhan industri salmon yang berkelanjutan.
  • Menutup sesi dengan pendekatan yang berbeda, Felipe Gómez membawa audiens menelusuri sejarah musik klasik dan menunjukkan bahwa disiplin, semangat melayani, serta passion juga memiliki tempat penting dalam dunia profesional. “Kita semua dipanggil untuk menjadi virtuoso.”

Akuakultur merupakan salah satu industri yang penuh ketidakpastian. Karena itu, mengurangi variabilitas menjadi kunci penting untuk mendorong pertumbuhan industri secara berkelanjutan.
Ole Kristian Sivertsen speaking at AquaVision 2026